Tuesday, 10 September 2019

Jangan Sampai Salah Mengartikan, Pahami Dulu Beda Cinta dengan Obsesi

Jangan Sampai Salah Mengartikan, Pahami Dulu Beda Cinta dengan Obsesi

Jangan Sampai Salah Mengartikan, Pahami Dulu Beda Cinta dengan Obsesi

.
Cinta ialah salah satu perasaan yang sangat membahagiakan. Ketika mengawali hubungan yang baru dengan seseorang, tentu Anda merasa hendak bertemu masing-masing hari, tersenyum ketika membuka pesan singkat dari pasangan, dan tidak dapat berhenti memikirkan mengenai dia. Namun, bila tidak dipedulikan terlalu lama dan tidak dikendalikan, rasa cinta berpotensi pulang menjadi obsesi yang tidak sehat dan menakut-nakuti hubungan asmara. Lalu, bagaimana teknik mengetahui bahwa yang kita rasakan ialah cinta atau obsesi?
Apakah kita merasa jatuh cinta atau melulu obsesi tidak sehat?

Dilansir dari MedicineNet, euforia jatuh cintanormal terjadi di bulan-bulan mula pada hubungan asmara manapun.
Memikirkan pasangan terus menerus dan selalu hendak bertemu ialah perasaan yang lumrah di mula masa pacaran. Seiring dengan berjalannya waktu, cinta yang sehatseharusnya berkembang menjadi hubungan yang menghargai setiap pasangan.
Namun, bila sejumlah bulan telah selesai dan kita masih terlalu tidak jarang memikirkan pasangan, bahkan hingga di titik di mana semua hidup kita hanya konsentrasi padanya, itu dapat jadi adalahtanda-tanda obsesi.
Berikut ialah beberapa pengakuan yang dapat menolong Anda memisahkan antara cinta atau obsesi:

1. Cinta buat hati tenang, obsesi memunculkan gelisah
Ketika Anda sudah menjalin hubungan dengan seseorang lumayan lama, kita seharusnya merasa lebih tenang dan saling meyakini satu sama lain.
Cinta yang sehat akan menyerahkan Anda ketenangan. kita percaya bahwa pasangan tetap menyukai Anda meskipun tidak mesti berkomunikasiseharian penuh. kita akan memahami bahwa kalian berdua memiliki kegiatan masing-masing.
Namun, bilamana obsesi memungut alih, kita akan tidak jarang kali merasa gelisah dan ketergantungan. kita merasa kesulitan bilamana tidak mengerjakan suatu pekerjaan dengan pasangan, pesan singkat kita tidak dijawab lima menit, atau berlarut-larut memikirkan apa saja ucapan dan perbuatan pasangan terhadap Anda.
Dengan kata lain, cinta atau obsesi dapat dipisahkan dari sejauh apa kita merasa tergantung secara jasmani dan emosional dengan pasangan.

2. Cinta menyerahkan kebebasan, sementara obsesi mempunyai sifat mengekang
Terlalu konsentrasi pada pasangan di masa-masa mula pacaran memang belum pasti menjadi firasat obsesif, namun Anda tetap mesti berhati-hati.
Berdasarkan keterangan dari Robert Vallerand, seorang psikolog dalam bukunya yang berjudul The Psychology of Passion: A Dualistic Model, bilamana seseorang menyukai Anda, itu dengan kata lain dia meyakini Anda sepenuh hati.
Cinta sejati bakal selalu menginginkan hal-hal yang terbaik datang di kehidupan pasangannya. Hal itu termasuk menyerahkan ruang sendiri bilamana pasangan membutuhkannya.
Lain halnya dengan obsesi. Orang yang terobsesi dengan pasangannya akan tidak jarang kali dihantui dengan perasaan tidak tenang, bahkan cemburu buta.
Apabila kita terobsesi, Anda ingin menjadi posesif dan mengontrol kehidupan pasangan secara berlebihan. Anda barangkali akan menata dengan siapa pasangan berinteraksi, meminta pasangan menghubungi kita sesering mungkin, bahkan dalam sejumlah kasus, ada orang-orang yang meminta akses mengarah ke akun media sosial pasangannya.
Hal ini disebabkan Anda mempunyai ketakutan yang tidak rasional bakal kehilangan pasangan. Jika Anda menikmati tanda-tanda tersebut, telah waktunya kita mempertanyakan apakah yang kita rasakan ialah cinta atau obsesi.

3. Cinta menciptakan Anda berkembang, obsesi tidak
Dalam suatu hubungan cinta yang sehat, kita dan pasangan ingin berkembang ke arah yang positif, baik dalam hal pertumbuhan diri sendiri maupun arah hubungan.
Hal ini tidak bakal Anda temukan dalam perasaan obsesi. Vallerand menambahkan bahwa obsesi yang tidak sehat menciptakan Anda tidak tersingkap dengan pertumbuhan hidup pasangan. Sulit untuk Anda untuk menyaksikan bahwa pasangan seharusnya mempunyai kehidupannya sendiri.
Tanda-tanda beda yang butuh Anda perhatikan ialah bagaimana kita dan pasangan bisa tetap konsentrasi dan saling mendukung pekerjaan atau kegemaran masing-masing.
Apabila kita merasa terlampau bergantung dengan pasangan sehingga kegiatan atau kegemaran Anda terganggu, atau kebalikannya Anda membatasi pekerjaan pasangan di luar hubungan pacaran, dapat jadi rasa cinta kita telah pulang menjadi obsesi.

4. Cinta mementingkan keperluan berdua, obsesi melulu melihat kepentingan pribadi
Ketika kita terobsesi, Anda barangkali tidak sadar bahwa segala urusan yang Anda kerjakan untuk pasangan dan hubungan ini hanyalah guna memuaskan kemauan dan ego kita semata.
Dalam obsesi, Anda ingin melupakan aspek terpenting bahwa cinta seharusnya dilandaskan oleh rasa saling mengetahui dan menghargai kedua belah pihak.
Jika kita merasa bahwa Anda tidak cukup memahami apa yang bahwasannya pasangan kita butuhkan, saatnya kita mengevaluasi apakah perasaan yang kita miliki ialah cinta sejati atau obsesi belaka.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.